15 September, 2015

Bahagia Guru Itu Sederhana


“Coba dari dulu guru matematikanya kayak bapak, saya kan gak takut dengan matematika”
Celetuk seorang anak SMA jurusan IPS kepada saya, ketika setelah menjelaskan beberapa materi di depan kelas. Saya Cuma tersenyum meskipun dalam hati senangnya bukan main. Jadi bahagianya guru itu sederhana, bukan gaji besar atau bisa upload mobil hasil keringat sendiri, karena itu cuma bonus saja.
Tentu kepuasan tersendiri diperoleh ketika ada siswa yang dari takut menjadi tidak takut untuk belajar dan bahkan malah senang untuk belajar sebuah mata pelajaran yang mungking dibenci dan ditakuti oleh mayoritas anak bangku sekolahan.
Salah besar ketika kita selalu berpikir matematika itu mata pelajaran yang sulit dan ditakuti, karena menurut saya kalau anda sudah bisa berbelanja dengan benar ya berarti anda sudah pintar matematika, apalagi sudah bisa memperhitungkan besar potongan yang akan diperoleh ketika ada promo diskon.
Kenapa pintar matematika itu sangat sederhana?  Iya, saya jawab memang sederhana, kenapa sederhana?  karena pintar itu tak selalu harus bisa semua hal  dan bernilai sempurna kan?  Pintar matematika iya cukup bisa menerapkan apa yang dipelajari disekolah dan diterapkan dikehidupan sehari hari, itu baru namanya pintar persi saya.
Terus bagi anda dengan nilai 100 di rapot bisa dianggap pintar? Ya tentu belum menjamin nilai 100 di rapot bisa menjadikan anak itu pintar, itu kan cuma angka bisa ditulis kan? Kita lihat dulu siswa yang dapt 100 itu ketika bermasyarakat bisa gak bersosialisasi? Atau bisa gak membantu memecahkan masalah yang berhubungan dengan matematika  di masyarakat? Kalau bisa, oke saya akui dia pintar ;)
Ketika memberikan Ulangan kenapa anda tak pernah diam di dalam kelas dan bahkan diam di luar kelas? Anda tidak takut mereka menyontek atau kerjasama?
Hahaha… saya sebagai guru selalu menanamkan sikap positif kepada anak didik saya, kenapa saya harus ragu meninggalkan mereka ketika ulangan? Apakah dengan di awasi menjamin mereka tidak menyontek? Belum tentu bukan? Mereka Cuma sekedar ulangan bukan je penjahat sekelas koruptor dan teroris yang harus di awasi.
Untuk mensinergikan ucapan dan perbuatan, saya membuat kesepakatan dulu dengan para siswa, mau ulangan seperti bagaimana, tawaran yang paling menyenangkan bagi siswa adalah ketika saya tawarkan open book, alias boleh lihat catatan selama ulangan asal tak boleh menyontek ke temen, kalau menyontek  ke temen nilai nya nol.
Sepakat? Iya mereka sepakat, karena mareka tidak tahu bagaimana saya mercancang soal ulangan, 30 anak, saya buat  30 soal berbeda dengan tingkat kesukaran yang sama dan tentu tidak keluar dari Standar kompetensi yang harus dicapai anak. Caranya? Gampang….dan tentu tidak perlu saya jelaskan disini.
Dengan cara begitu, saya bisa meninggalkan mereka ketika ulangan, karena menyontek pun mareka akan sulit karena soal berbeda, apalagi dengan saya perbolehkan open book.
Ulangan kok open book? Bukannya itu tidak sama dengan nyontek? Atau bahkan anak anak tak akan belajar ketika mau ulangan?
Itu bukan serta merta menyontek,  itu kan belajar kembali..Cuma berbarengan dengan ulangan kan gak mesti belajar pas mau ulangan saja? Haha
pinter kan saya ngeles? Hahaha
Itu cuma strategi saya untuk mengalihkan perhatian siswa dari menyontek ke temen, kalau siswa cerdik, bukan hanya sekedar  pintar, pastilah anak itu akan berpikir “ini ulangan open book, kalau kalau saya tak belajar sebelum ulangan, saya tak akan tahu dimana posisi materi di buku catatan, jadi saya harus belajar agar besok lebih gampang mencari materinya ketika open book”  atau “ wah minggu depan open book, Cuma ngabisin waktu ulangan saja, oke saya belajar saja, pas ulangan biar santai” kurang lebih siswa akan berpikir seperti itu.
Jadi meskipun open book bukan berarti siswa akan malas belajar kan? Malah dia akan lebih senang belajar untuk mempersiapkan ulangan. Secara tidak langsung ketika ulangan, siswa akan lebih rileks menghadapi soal soal ulangan karena di otaknya sudah ter mindshet mereka punya bantuan yaitu open book, tapi karena sebelumnya sudah hapal posisi dan materi jadi ya tanpa open book seharusnya mereka bisa jawab. Namun namanya juga manusia ada ada anugrah lupa, jadi ketika lupa yang mereka open book. Jadi open book itu kan alat bantu, sama halnya alat tulis, tanpa alat tulis kan mereka tak bisa menulis jawabannya kan?
Oya, semua yang saya terapkan di kelas IPS dan IPB ini belum tentu berhasil diterapkan dikelas lain,,jadi sebelum menerapkan apa yang saya terapkan pelajari dulu karakter siswa anda ;)

“Guru, ada ketika anda membutuhkannya, namun anda tak menginginkannya, dan guru akan pergi ketika anda tak lagi membutuhkannya namun anda menginginkannya”

Baca Selengkapnya...