30 April, 2014

Pura Watu Klotok

Salah satu pura terkenal di Kabupaten Klungkung adalah Pura Watu Klotok. Di samping merupakan salah satu kahyangan jagat, Pura Watu Klotok juga kerap dijadikan pusat pasucian Ida Batara Pura Besakih. Akhir tahun 2005 lalu, pascabencana ledakan bom Bali II dan terjadinya bencana tsunami di Aceh, di pura yang terletak di bibir pantai selatan kota Semarapura itu berlangsung dua kali upacara permohonan keselamatan dan kesucian dunia. Upacara Samudra Kerthi dan Dirgayusa Bumi. Tak kalah pentingnya, Pura Watu Klotok juga berfungsi sebagai tempat memohon kesuburan lahan persawahan bagi para petani.
Pura Watu Klotok letaknya tidak jauh dari pura terkenal lainnya yang ada di bumi serombotan. Salah satunya Pura Dasar Bhuwana Gelgel. Sehingga keberadaannya sangat mudah dijangkau bagi umat yang gemar bertirtayatra. Apalagi saat ini, jalur By-pass Tohpati-Kusamba (By-pass IB Mantra) sudah tuntas dikerjakan. Tentu akses bagi umat menuju pura yang berada di Banjar Celepik, Tojan, Klungkung itu semakin mudah.

Pura Watu Klotok memiliki panorama pantai selatan Klungkung yang mempesona. Dari pura itu, sembari bersembahyang umat pun dapat menyaksikan keindahan kawasan Kepulauan Nusa Penida dan Hotel Bali Beach di pantai Sanur. Hampir setiap bulan, persisnya ketika bulan purnama, Pura Watu Klotok benar-benar menjadi tempat yang paling dicari oleh umat yang haus akan pendalaman spiritual. Karena Pura Watu Klotok dipercaya sangat baik dijadikan objek matirtayatra yang belakangan ini makin diminati umat Hindu.
'Bisa dikatakan Pura Watu Klotok merupakan tempat yang mampu menghilangkan dahaga bagi umat yang kehausan pendalaman spiritual, Tak jarang, umat bahkan sampai makemit (begadang) sembari bersemedi di Pura Watu Klotok guna menemui kedamaian batin.

Selain itu, umat Hindu yang berprofesi sebagai petani, juga mempercayakan keberhasilannya di bidang pertanian di pura ini. Umat selalu memohon petunjuk dan perlindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar senantiasa memberi kesuburan atas tanah pertanian mereka serta mencegah datangnya serangan hama tanaman. Atas hal itu, krama subak secara rutin, turun-temurun melaksanakan upacara mohon pekuluh jika sawah mereka terserang wabah tanaman sekaligus memohon keselamatan dan kesuburan tanam-tanaman yang dikenal dengan upacara neduh lan pangusaban. Umat yakin, dengan permohonan yang tulus, kesuburan tanah akan terwujud. Permohonan keselamatan dan penyucian serta anugerah kesuburan, itu berlangsung ketika piodalan yang jatuh setiap enam bulan sekali. Persisnya pada Anggara Kasih Julungwangi. Ada juga yang diselenggarakan setiap tahun sekali, yakni upacara Ngusaba. Piodalan itu diselenggarakan oleh pengempon dari warga Banjar Celepik, Gelgel dengan pendanaan bersumber dari hasil pelaba pura seluas 125 are.

Upacara lain yang kerap digelar di pantai Watu Klotok seperti upacara mulang pakelem dalam rangkaian upacara-upacara besar yang digelar di Pura Besakih seperti Eka Dasa Rudra, Tri Bhuana, Eka Bhuana, Candi Narmada, Panca Bali Krama dan lainnya. Bahkan, di pantai Watu Klotok juga sering dilakukan upacara nangkid, malukat, neduh dan lainnya. Terlepas dari itu semua, pantai Klotok memendam misteri yang sulit dianalisis akal sehat. Bentangan pantai dari Ketapang Kembar sampai pantai Sidayu merupakan kawasan misteri pasukan ''Kopassus'' Ratu Gde Nusa. Siapa pun yang berani berbuat onar dan kurang ajar di pantai itu, jangan harap untuk pulang kembali dengan selamat.

Salah satu peninggalan yang dikeramatkan di Pura Watu Klotok adalah sebuah batu mekocok (makocel). Batu mekocok itu merupakan cikal bakal pendirian pura dengan kekeramatannya yang kini malinggih di utama mandala Pura Watu Klotok. Bukan hanya itu, ada juga unen-unen (rencang) Ida Batara berupa bikul (tikus) putih, lelipi poleng (ular belang) dan penyu macolek pamor. Penyu macolek pamor itu diyakini muncul seratus tahun sekali. Itu dibuktikan dengan terdamparnya seekor penyu raksasa beberapa tahun silam.



Sebagaimana Pura-pura lain di Bali, struktur Pura Watu Klotok juga terdiri atas tiga bagian. Utama mandala, madya mandala dan nista mandala. Bagian nista mandala (paling luar) Pura Watu Klotok berupa Candi Bentar dan Arca Dwapara Pala lengkap dengan senjata gada. Dwapara berarti pintu, sedangkan pala berarti penjaga. Jadi, begitu memasuki wilayah Pura Watu Klotok diyakini sudah ada suatu kekuatan yang menjaga kesucian pura. Sehingga ketika pemedek baru menginjakkan kaki di gerbang pura, sudah diarahkan untuk mengarahkan pikiran dan perilaku ke arah kesucian,

Setelah memasuki candi bentar menuju madya mandala, di sebelah selatan terdapat Pelinggih Sang Kala Sunya. Pelinggih itu merupakan aspek sakti dari Batara Baruna yang menguasai daerah kutub. Di sebelah timur Pelinggih Sang Kala Sunya, juga dibangun pelingih penghayatan Ratu Gde Penataran Ped yang tak lain berupa pohon ketapang berukuran besar serta sebuah tugu seperti pelingih taksu atau ngerurah.

Di utama mandala terdapat Pelinggih Ida Batara Watu Makocok (Makocel). Sesuai namanya, pelinggih ini disebut batu makocel yang berarti batu berbunyi yang diyakini memiliki sinar vibrasi spiritual tinggi. Juga diyakini sebagai tempat memohon kekuatan alam agar dianugerahi keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan karena batu ini adalah cikal-bakal lahirnya Pura Watu Klotok. Karena pertama kali ada, makanya umat menyebut Pelinggih Batu Makocel itu dengan sebutan Pelinggih Ida Batara Lingsir.

Di samping Pelinggih Batara Lingsir, ada Meru Tumpang Lima, Gedong Alit Pule, Padmasana, Pengaruman, Linggih Sri Sedana dan beberapa pelinggih lainnya. Singkatnya, di utama mandala terdapat 16 bangunan/ pelingih termasuk Candi Bale dan sumur, di madya mandala lima bangunan/ pelinggih yaitu bale pemedek, bale gong, bale kulkul, candi bentar dan apit lawang kiwa tengen.

Sementara pada nista mandala terdapat 6 bangunan/ pelingih yaitu Pelinggih Sanghyang Kala Sunia, Pelinggih Ida Batara Dalem Ped, Bale Pawedaan, Panggungan, candi bentar dan patung Dwarapala. Di samping terdapat piranti pelengkap lainnya seperti lumbung, bale petandingan, perantenan, Bale sekepat, Pelinggih Sri Sedana dan bale paebatan yang terletak di sekitar areal pura. 
Namun di Balik itu semua kini Kondisi Pantai Klotok tempat dimana Pura Watu Klotok berdiri, sangat memperhatinkan, semoga pemerintah dan masyarakat terkait dapat menangulangi kerusakan ini.

Baca Selengkapnya...

Melukat : Tradisi Pembersihan Diri

Air adalah salah satu elemen penting dalam kehidupan manusia di bumi. Hampir dua pertiga bagian bumi terdiri dari air, hal yang membedakannya dengan planet lain di jagat raya. Tidak hanya bumi, dua pertiga dari zat yang membentuk tubuh manusia juga air. Begitu pentingnya, air sudah menjadi kebutuhan sehari-hari dan manusia tidak bisa hidup tanpa air. Di Bali, air juga dimanfaatkan untuk ritual keagamaan sebagai tirtha atau air suci anugerah Tuhan.

Agama Hindu Dharma yang dianut sebagian besar masyarakat di Bali juga dikenal dengan sebutan Agama Tirtha (“agama air suci”). Berbeda dari tempat asalnya di India, Hindu di Bali merupakan perpaduan Hindu aliran Siwa, Waisnawa, dan Brahma dengan kepercayaan lokal orang Bali. Laut, danau, sungai dan sumber mata air dianggap penting sehingga harus dijaga dan dilestarikan. Bukti pentingnya bisa dilihat dari lokasi beberapa pura yang mengambil tempat dekat dengan sumber air seperti Pura Tanah Lot, Pura Uluwatu, Pura Ulun Danu Beratan, Pura Tirta Empul, dan lainnya.


Dalam ritual umat Hindu, selain sebagai tirtha, air juga dipakai sebagai sarana pembersihan diri jasmani dan rohani pada ritual yang disebut melukat. Berasal dari kata sulukat (su yang berarti baik dan lukat berarti penyuciaan), melukat berarti upacara menyucikan diri guna memperoleh kebaikan. Ritual melukat telah dilakukan oleh umat Hindu secara turun temurun untuk berbagai kepentingan, namun tujuannya tetap sama yaitu penyucian diri.

Beberapa diantara umat melaksanakan melukat sebagai simbol membersihkan diri dari segala kekotoran guna bisa berada dalam pikiran yang kembali bersih dan berisikan hal positip untuk melanjutkan kehidupan. Ada juga yang melakukannya untuk memperoleh kesembuhan dari penyakit, memperoleh keturunan, kewibawaan dan lainnya. Walau demikian kesemuanya merupakan permohonan yang ditujukan kepada Tuhan melalui perantara air.

Tempat melukat umumnya dipilih pada sumber air yang dianggap suci. Melaksanakannya bisa bersama-sama ataupun sendiri. Salah satu tempat yang banyak dikunjungi yaitu Pura Tirta Empul, Desa Manukaya, Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Pada hari tertentu seperti Kajang Kliwon, Manis Galungan, Kuningan atau bertepatan dengan piodalan (hari raya) pura, umat yang datang bisa mencapai ribuan orang. Hari-hari tersebut diyakini baik untuk melaksanakan melukat agar doa dan permohonan mereka bisa terkabul.

Pura Tirta Empul lokasinya bersebelahan dengan Istana Presiden Tampaksiring. Dari Denpasar bisa ditempuh dalam waktu satu jam dengan kendaraan bermotor kearah utara melalui kota Gianyar. Tirta Empul berarti air suci yang menyembur dari tanah. Air dari sumber mata air di pura ditampung pada sebuah kolam besar di bagian dalam pura terlebih dahulu sebelum dialirkan menuju puluhan pancuran di kolam permandian. Prosesi melukat dilakukan pada kolam permandian tersebut.

Masing-masing pancuran di kolam permandian Pura Tirta Empul memiliki nama sesuai peruntukannya seperti pancuran penglukatan, pebersihan, sudamala, cetik (racun), dan sebagainya. Umat yang hendak melukat bisa memilih di pancuran mana saja harus melakukannya. Sebagai persiapan, umat menghaturkan sesaji dan memanjatkan doa didekat pancuran terlebih dahulu.  Melukat dimulai dengan menguyur kepala, membasuh muka maupun mandi beberapa saat dengan air yang keluar dari pancuran. Usai melukat, umat kemudian melakukan persembahyangan di pura.


Lokasi lain yang sering menjadi tujuan melukat yaitu air terjun Gunung Kawi Sebatu dan Pura Selukat serat Tirta Empul, ketiganya terletak di Kabupaten Gianyar, Air Sudhamala  dan Tirta Mas Bungkah di Kabupaten Bangli, Goa Giri Putri di Nusa Penida. Untuk tempat melukat di laut, pantai Sanur, Pantai Goa Lawah, Pantai Klotok merupakan lokasi yang banyak dipilih. Lokasi  dipilih bukan saja karena sumber airnya dianggap suci dan terjaga,  biasanya tempat tersebut mempunyai nilai sejarah. Pura Tirta Empul misalnya, keberadaanya dikaitkan dengan cerita peperangan antara Mayadenawa seorang raja berperangai buruk dengan Dewa Indra.

Melukat menyucikan diri dengan perantara air guna mencapai kedamaian dan ketenangan jiwa raga merupakan hal yang banyak dicari oleh umat Hindu. Semua didasari atas keyakinan bahwa Tuhan Yang Maha Esa yang memberikannya. Harmoni hubungan antara manusia, alam dan Tuhan harus selalu dijaga guna mendatangkan kebaikan hidup saat ini maupun dimasa yang akan datang.
Baca Selengkapnya...

Ciri Ciri Cewek Tak Perawan

30 April 2014
Kemarin habis melukat ke Pantai Klotok, bersama teman teman setempat kerja ku, kemudian hari ini bangun cukup kesiangan karena tidurku sangat nyenyak sepulang melukat dengan air laut, deburan ombak di bawah langit gelap dengan sejuta bintang. sampai ditempat kerja aku terlambat haha,, dan di tuduh meniduri gadis perawan sampai telat bangun, ngomong ngomong soal perawan, sebenarnya si gadis itu sudah tak perawan, karena ciri cirinya pas banget dengan yang di bawah ini :

1. Menghindar Saat Ada Cowok yang Menaksir Bisa dibedakan mana yang perawan, mana yang tidak perawan. Seorang wanita akan terlihat sudah tidak perawan lagi saat kita para cowok menyatakan cinta pada seorang wanita, tapi suaminya datang sambil bawa golok dan marah-marah sama itu cowok. Itu sudah dipastikan, kalau wanita itu SUDAH TIDAK PERAWAN LAGI. INGAT, JANGAN CARI PERKARA. 
2. Lihat Bentuk Tubuhnya Bentuk tubuh seorang wanita juga bisa menentukan kalau dia masih perawan atau tidak. Jika perutnya terlihat mendadak buncit dalam beberapa bulan dan badannya bertambah melar, itu sudah jelas sekali bisa dipastikan kalau wanita itu SUDAH TIDAK PERAWAN LAGI. 
3. Lihat Cara Berjalannya Wanita yang sudah tidak perawan akan terlihat kalau dia sudah tidak perawan lagi saat wanita itu berjalan sambil menggendong anaknya apalagi menggendong sambil menyusui, itu sudah jelas kalau wanita itu SUDAH TIDAK PERAWAN LAGI. 
 5. Lihat Lehernya Kalau yang 1 ini, kita harus teliti memperhatikan leher wanita sebelum dijadikan pacar. Siapa tau wanita itu sudah tidak perawan lagi. Jika terdapat tonjolan pada leher bagian depan wanita itu, berarti wanita itu tidak perawan karena bisa dipastikan dia bukan PERAWAN tapi PERJAKA. 
6. Lihat Dadanya Dada seorang wanita sangat menentukan kalau dia masih perawan atau tidak. Dan di butuhkan nyali besar untuk melakukannya. Jika dada wanita itu kita pegang rata dan terasa agak keras juga berbulu. Itu tandanya dia juga tidak PERAWAN tapi PERJAKA. 
 7. Lihat Namanya Kalau ada seorang wanita yang bernama Gadis, maka cepat nikahi wanita itu. Rugi banget kalau sampe di duluin orang. Kan enak tuh kalau kita nanti sudah tua, istri kita nanti tetap GADIS. Sobat cowok jangan mencoba menikahi seorang wanita yang bernama Joko, Bagus dan Slamaet. Karena pasti TIDAK PERAWAN. 
8. Lihat Cara Bacanya Cowok yang saking seriusnya membaca tulisan ini dan baru sadar kalau nomer 4 tidak ada, bisa dipastikan tidak perawan. 
 9. Lihat Respondnya Setelah Mebaca Cowok yang sadar kalau nomer 4 tidak ada, dan langsung liat ke atas. Dan berkata "Oh iya nomer 4 tidak ada" abis itu nyengir dan senyum kecil sambil liat kekanan kekiri berharap tidak ada yang liat. Berarti dia itu nggak perawan
Baca Selengkapnya...

29 April, 2014

Tilem Kadasa

29 April 2014
 Aku bangun pagi dengan keadaan tubuhku tertutup selembar kain tepat dibagian selangkanganku, aku tak terkejut dengan keadaanku seperti itu, aku bukan sedang habis diperkosa, ataupun memperkosa. Keadaanku seperti itu sudah sangat sering terjadi, iya karena aku susah tidur dengan menggunakan pakaian. oleh karena itu aku memilih tidur tanpa busana yang lengkap, konon itu tidur tanpa busana itu sehat kayak monyet tidur tanpa busana mereka tak pernah kedokter kan? Udara di Desa ku cukup dingin pagi ini, mungkin karena mentari sudah berubah posisi, agak keutara sedikit, jadi suhu di daerah saya agak turun.

aku sibak sedikit selimut yang melilit sedikit betisku, aku lihat dibalik jendela kamarku, ada asap beraroma wangi semerbak layaknya parfum mahal, terlintah sesosok wanita 40 tahunan lebih membawa nampan lengkap dengan sarana persembahyangan, iya dia itu Ibu ku, yang selalu bangun lebih pagi dari aku ketika rahinan(hari perayaan). Terpaksa aku terbangun, ingin menyeruak pagi ini, namun kulitku menjerit kedinginan, namun hidungku bergembira girang riang menghirup udara segar serakus rakusnya. Oke otaku berpacu aku harus apa? hambil anduk kemudian berangkat ke kamar mandi yang jaraknya cukup jauh dari kamarku, oke aku rapikan tempat tidurku dulu kemudian baru mandi. kamar mandiku tidak dibangun didalam kamar layaknya hotel, itu untuk menjaga kebersihan kamar dan tentunya untuk tidak malas beranjak dari kamar ketika ingin membuang zat zat yang agak bangsat kalau disimpan di dalam tubuh. 
Ku basuh tubuh ini dengan air, dengan suhu 30 derajat celcius, menggigil sedikit karena aku sudah terbiasa deengan suhu seperti itu.
Sabun cair yang baru aku beli kemarin ku coba, ternyata baunya harum sekali. Bersih sudah tubuh ini, tak kurang aku cuci rambutku yang agak berantakan bergaya anak muda masa kini.
Berlari menuju kamar, dengan handuk menutupi bagian tubuhku dari bawah pusar kebawah.
Oya hari ini, Tilem pantesan ibu ku bangun sangat subuh, Tilem itu perayaan Bulan Mati di tradisi agamaku.
So, aku harus berpakaian adat ke tempatku bekerja, dominasi warna putih sibul kesucian dan daleman hiam simbul kesemangatanku, aku berangkat menuju tempatku bekerja. Hampir lupa, aku sembahyang dulu di sanggah keluarga, baru cuss.
waooo..tanpa jaket namun berkaca mata hitam kas penyanyi rocker, aku memberlah pagi, suhu dingin menusuk nusuk bagian dadaku, hari ini aku naik sepeda motor, meskipun sering dimarah karena tak pernah mau memakai mobil, aku pikir pemborosan dan kurang efesien waktu saja.
Sampai di tempat kerja, sapaan dan senyuman bertebaran, karena aku sampai cukup pagi ketika para siswa sedang mempersiapkan persembhyangan bersama dikala Tilem.

Baca Selengkapnya...

HUT Kota Semarapura




Semarapura adalah kota yang berada di Kabupaten Klungkung Provinsi Bali. Kota ini tidak memiliki status administrasi dan sebagian besar wilayahnya berada di Kecamatan Klungkung. Semarapura merupakan pusat pemerintahan kabupaten yang juga dikenal sebagai daerah sumber seni dan budaya di Bali. Secara historis, seni dan budaya Bali lahir dan berpusat di Semarapura, baik seni tari, kerawitan, ukiran, patung, arsitektur, wayang dan tata upacara keagamaan. Kota ini terkenal dengan julukan Kota Serombotan salah satu panganan tradisional khas kota ini. 



Luas kota ini yaitu ± 315 Km² dimana pembagian wilayahnya yaitu ± 112,16 Km² merupakan daerah yang ada di Pulau Bali sedangkan ± 202,84 Km² lagi adalah Nusa Ceningan, Nusa Penida dan Nusa Lembongan. Daerah yang sekarang disebut Semapura dulu adalah pusat Kerajaan Klungkung. Kota Klungkung pun diubah dan diresmikan namanya menjadi Kota Semarapura pada 28 April 1992 oleh Menteri Dalam Negeri, Rudini berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.18 tahun 1992. Selanjutnya, setiap 28 April ditetapkan sebagai Hari Puputan Klungkung dan HUT Kota Semarapura. Hari jadi kota Semarapura bertepatan juga dengan peresmian Monumen Puputan Klungkung karena bertepatan dengan peringatan Puputan Klungkung. 
Baca Selengkapnya...

28 April, 2014

Puputan Klungkung


28 April 1908 mengguratkan catatan penting bagi Klungkung. Pada hari itu, Raja Klungkung, Dewa Agung Jambe bersama kerabat, pasukan dan rakyat yang setia gugur membela kedaulatan kerajaan dan rakyat Klungkung, menunaikan dharmaning ksatria, kewajiban tertinggi seorang ksatria sejati. 
Perang Puputan Klungkung sejatinya merupakan puncak perlawanan raja dan rakyat Klungkung terhadap intervensi Belanda, mulai dari masalah perbatasan hingga monopoli perdagangan candu. Sikap dan tindakan Belanda terhadap Klungkung dianggap mengoyak kedaulatan kerajaan dan rakyat Klungkung.
Api perlawanan terhadap Belanda pertama kali meletus di Gelgel. Pemicunya, patroli keamanan Belanda di wilayah Klungkung pada 13-16 April 1908. Belanda berdalih patroli itu untuk memeriksa dan mengamankan tempat-tempat penjualan candu sebagai konsekwensi monopoli perdagangan candu yang dipegang Belanda. Sejumlah pembesar kerajaan Klungkung menentang patroli ini karena dianggap melanggar kedaulatan Klungkung. Cokorda Gelgel berada di barisan penentang ini, bahkan telah mempersiapkan suatu penyerangan terhadap patroli Belanda. Benar saja, serangan terhadap patroli Belanda terjadi di Gelgel. Serangan mendadak ini membuat Belanda menderita kekalahan; 10 orang serdadu gugur termasuk Letnan Haremaker, salah seorang pemimpin serdadu Belanda. Di pihak Gelgel kehilangan 12 prajurit termasuk IB Putu Gledeg.
Belanda tampaknya juga menunggu-nunggu peristiwa Gelgel, karena hal itu bisa menjadi pintu masuk untuk menyerang Klungkung. Setelah mengadakan serangan balasan ke Gelgel, Belanda semakin bernafsu menaklukkan Klungkung. Belanda menuding Klungkung memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda. Ekspedisi khusus pun dikirimkan Belanda dari Batavia. Raja dan rakyat Klungkung diultimatum untuk menyerah hingga 22 April 1908. Raja Klungkung tentu saja menolak tudingan Belanda itu. Mulai 21 April 1908, Belanda memborbardir istana Smarapura, Gelgel, dan Satria dengan tembakan meriam selama enam hari berturut-turut.
27 April 1908, ekspedisi khusus dari Batavia tiba dengan kapal perang dan persenjataan lengkap. Belanda mendaratkan pasukan di Kusamba dan Jumpai. Perang pun dimulai. Karena persenjataan tidak seimbang, Belanda bisa menguasai Kusamba dan Jumpai, meskipun rakyat di kedua desa itu melakukan perlawanan sengit. Perlahan, pasukan Belanda pun merangsek menuju Klungkung. Istana Smarapura terkepung.
Cokorda Gelgel dan Dewa Agung Gde Semarabawa gugur dalam menghadapi serdadu Belanda di benteng selatan. Mendengar berita ini, putra mahkota yang masih muda (12 tahun) turun ke medan perang mengikuti ibu suri, Dewa Agung Muter. Semuanya berpakaian serbaputih, siap menyongsong maut. Dewa Agung Muter bersama putra mahkota akhirnya gugur.
Mendengar permaisuri dan putra mahkota gugur di medan laga, tidak malah membuat Dewa Agung Jambe keder, justru semakin bulat memutuskan berperang sampai titik darah penghabisan. Dewa Agung Jambe keluar diiringi seluruh keluarga istana dan prajurit yang setia maju menghadapi Belanda dengan gagah berani. Karena persenjataan yang tidak imbang, mereka pun gugur dalam berondongan peluru Belanda. Mereka menunjukkan jiwa patriotis membela tanah kelahiran dan harga diri. Hari itu pun, 28 April 1908 sore, sekitar pukul 15.00 kota Klungkung jatuh ke tangan Belanda.
Secara fisik Klungkung memang kalah. Tapi, di balik kekalahan itu, Klungkung menunjukkan kemuliaan sikap manusia Bali yang menempatkan harga diri dan kehormatan di atas segala-galanya. 
Kini 28 April 2014, 106 tahun lalu, terjadi sebuah peristiwa heroik sekaligus tragik di Kerajaan Klungkung, sebuah kerajaan di bagian timur Bali yang pernah menjadi pusat politik Bali dan Lombok di abad ke-19. Raja Klungkung, Dewa Agung Jambe bersama keluarga, kerabat, prajurit dan sejumlah rakyatnya gugur dalam sebuah perang (puputan) penghabisan menghadapi tentara Belanda. Peristiwa ini kerap dikenal orang Bali sebagai Puputan Klungkung. Inilah perang terakhir di era kerajaan di Bali. Kurang dari tahun sebelumnya, peristiwa serupa juga terjadi di Kerajaan Badung yang dikenal sebagai  Puputan Badung. Sesudahnya, perang  terjadi di era revolusi fisik di Margarana sehingga dikenal sebagai Puputan Margarana dengan dipimpin Letkol I Gusti Ngurah Rai. Puputan Klungkung menandai jatuhnya seluruh wilayah Bali secara total ke tangan Belanda. Klungkung memang menjadi kerajaan terakhir yang takluk di kaki Belanda. Puputan Klungkung juga sekaligus mematahkan mitos yang menyebutkan Indonesia, termasuk Bali, dijajah Belanda selama 350 tahun. Peristiwa  Puputan Klungkung menegaskan Bali dijajah hanya selama beberapa puluh tahun, bahkan Klungkung dijajah selama sekitar 37 tahun. Dibandingkan Puputan Badung, peristiwa  Puputan Klungkung memang kalah tenar. Kendati pun Puputan Klungkung terjadi belakangan, catatan dan sumber-sumber tertulis atau pun dokumen mengenai  Puputan Badung jauh lebih banyak. Seperti halnya  Puputan Badung, peristiwa Puputan Klungkung hingga kini memunculkan dua pandangan berbeda di kalangan masyarakat Bali. Ada yang menghormatinya sebagai sebuah monumen kultural manusia Bali tentang semangat perjuangan yang dilandasi nilai-nilai luhur lokal bahwa kemerdekaan dari penjajahan serta harga diri sebagai orang Bali di atas segala-galanya. Sebagian yang lain justru memandangnya sebagai sebuah ketidakmampuan menyikapi dinamika dan tantangan yang tengah menghadang di depan untuk tidak menyebut sebagai sebuah keputusasaan dalam perang. Kendati begitu, hingga kini, peristiwa  Puputan Klungkung tetap diperingati secara rutin tiap tahun, khususnya di kalangan masyarakat Kabupaten Klungkung. Peringatan ini tentu tidak dalam pengertian mengenang kekalahan dalam perang melawan penjajah, tetapi merenungi peristiwa itu sebagai upaya memaknai dinamika sejarah daerah.  Puputan Klungkung mesti dimaknai dalam kerangka sejarah panjang Bali dalam menghadapi penetrasi kepentingan luar. Puputan Klungkung sejatinya sebagi bagian akhir dari perlawanan panjang masyarakat Bali menghadapi penetrasi Belanda yang sudah dimulai sejak abad ke-17. Perlawanan Bali terhadap kepentingan asing mulai tampak pada awal abad ke-19, yakni ketika Inggris yang mengambil alih kekuasaan Belanda di Jawa ingin menghukum Buleleng yang menguasai Jembrana. Tindakan Buleleng menguasai Jembrana itu sebagai langkah antara untuk menduduki Blambangan (Banyuwangi) di ujung timur Jawa. Usaha pemerintah Inggris pada sekitar tahun 1814 ini gagal karena raja-raja Bali bersatu mendukung Buleleng melawan agresi militer luar. Sikap serupa juga ditunjukkan raja-raja Bali tatkala Buleleng menghadapi serangan Belanda dalam Perang Jagaraga pada tahun 1948. Bahkan, perang yang dipimpin Patih I Gusti Ketut Jelantik ini mampu menggetarkan Kerajaan Belanda karena pasukan Belanda sempat dikalahkan. Namun, sikap bersatu raja-raja Bali itu tak bertahan lama. Setahun kemudian Jagaraga akhirnya jatuh ke tangan Belanda menyusul mulai tidak kompaknya sejumlah raja-raja Bali. Seruan Raja Klungkung kepada kerajaan-kerajaan lain di Bali untuk bersatu membantu Buleleng kurang mendapat respons menggembirakan. Pada tahun itu juga, Klungkung sebagai kerajaan yang paling dihormati dan disegani raja-raja lain di Bali, nyaris jatuh ke tangan Belanda. Namun, kecerdikan dan kematangan strategi seorang Dewa Agung Istri Kanya, Belanda mampu dikalahkan dalam Perang Kusamba. Seorang jenderal sarat prestasi milik Belanda, Jenderal Michiels tewas disergap serangan mendadak prajurit Klungkung yang dipimpin Dewa Agung Istri Kanya. Seperti halnya Perang Jagaraga, peristiwa Perang Kusamba juga mengguncang publik di Belanda. Namun, sesudah itu, Bali praktis terpecah-belah dan sulit disatukan lagi. Rasa curiga bahkan perang antarkerajaan di Bali justru berbiak. Belanda pun dengan mudah menekuk satu per satu kerajaan-kerajaan di Bali. Pada tahun 1906, Belanda pun takluk melalui sebuah perang tak seimbang dengan Belanda dalam  Puputan Badung. Terakhir, Klungkung pun ditaklukkan dengan cara yang sama pada tahun 1908. Itu sebabnya, Puputan Klungkung mesti dibaca sebagai buah dari karut-marut kondisi sosial politik Bali sejak abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ketika itu, masing-masing kerajaan begitu egois sehingga solidaritas di antara mereka ikut merosot. Bahkan, yang lebih parah lagi, sejumlah kerajaan terlibat pertikaian yang didasari oleh keinginan yang satu menguasai yang lain. Bukan hanya itu, kerajaan-kerajaan itu tidak segan-segan membantu atau pun meminta bantuan Belanda untuk menaklukkan kerajaan lainnya. Kini, setelah lebih dari seabad peristiwa itu berlalu, Bali semestinya mendapat pelajaran amat berharga dari bentangan panjang sejarahnya ini. Karena sejatinya Bali tiada henti “berperang”. Justru kini Bali menghadapi “peperangan” yang jauh lebih dahsyat. Lantaran yang dihadapi bukan lagi senjata, tapi begitu kompleks: dari modal hingga ideologi, serta perlawanan terhadap pemerintah yang tidak pro rakyat melainkan pro terhadap investor yang ingin mereklamasi Bali menjadi pulau pencetak uang.

Baca Selengkapnya...

19 April, 2014

Test Kepribadian : Realis Sosial

Ketika sedang iseng tidak ada kesibukan (sebenarnya sangat sibuk, namun pura pura tak sibuk karena sesuatu dan lain hal) aku iseng melakukan test kepribadian free via media online 
eeeng iiing eeng ini hasilnya kawan....ternyata aku tipe Realis Sosial, apakah itu? ini penjelasannya aku kutip dari media online itu sendiri


Tipe Realis Sosial adalah orang-orang populer yang penuh energi. Mereka dapat diandalkan, terorganisir dengan baik, dan senang menolong. Nilai-nilai tradisional penting bagi mereka. Pembentukan keluarga juga memegang peran utama dalam kehidupan mereka. Tipe Realis Sosial memiliki sifat sosial yang menonjol. Mereka selalu siap mendengarkan kegelisahan dan masalah orang lain dan tidak pikir panjang ketika dimintai bantuan. Dengan empati dan pengertian, mereka dapat merasakan apa yang dibutuhkan orang lain. Tipe Realis Sosial selalu bersedia menghargai sifat-sifat baik orang lain dan memaafkan kelemahan orang itu. Mereka yang paling mudah bergaul dari seluruh tipe kepribadian. Kontak sosial sangat penting bagi mereka.

Tipe Realis Sosial sangat sulit menerima konflik dan kritik – keharmonisan adalah ramuan mujarab bagi hidup mereka. Pengakuan dan harga diri sangat penting bagi tipe ini. Di sisi lain, diferensiasi bukan salah satu kekuatan mereka. Dalam pekerjaan dan kemitraan, mereka setia, berkomitmen, dan selalu siap jika dibutuhkan. Mereka mudah berteman karena keterbukaan dan kehangatan mereka, dan mereka memiliki lingkaran besar pertemanan. Dalam asmara, mereka bisa dipercaya, penuh perhatian, dan menyayangi pasangan mereka dengan imajinasi dan kepekaan besar. Tipe Realis Sosial menunjukkan perasaan mereka dengan terbuka dan jujur. Jika hubungan mereka putus, mereka cenderung menyalahkan diri sendiri. Itulah sebabnya mereka sulit mengakhiri hubungan sekalipun hubungan itu sudah tidak berhasil memenuhi kebutuhan mereka.

Tipe Realis Sosial adalah tipe yang lebih konservatif. Mereka memiliki tata nilai dan aturan yang kaku yang berorientasi pada tradisi yang tak lekang oleh waktu. Mereka lebih menyukai lingkungan dan proses kerja yang jelas dan terstruktur; mereka tidak menyukai terlalu banyak perubahan dan gejolak. Kekuatan mereka terletak pada diri mereka yang teliti dan dapat diandalkan dan bukan pada keluwesan dan spontanitas mereka. Tipe Realis Sosial hanya terbuka hingga batas tertentu terhadap hal-hal baru. Namun, jika Anda mencari orang untuk menyelesaikan tugas dengan dapat diandalkan dan tepat, merekalah orangnya.

masih banyak lagi tipe tipe kepribadian yang lain, kalau beminat bisa klik di sini
Baca Selengkapnya...

15 April, 2014

NYOBLOS 2014

Ini pertama kalinya aku ikut nyoblos, umurku buka 17 tahun atau baru menikah muda namun selama ini saya golput. Golput itu Golongan Putih, netral tidak ikut atau memilih partai apapun.
aku sudah melewatkan 3 kali pemilihan presiden dan 2 gubernur, karena bagiku pribadi belum ada sosok yang pas mengemban tugas itu.

Namun tahun ini aku putuskan untuk ikut nyoblos yang dulu nya nyontreng, iya kebetulan aku suka nyoblos jadi aku tidak golput, selain itu karena aku ingin photoan di TPS ku, layaknya para caleg yang sok paling tetap sebagai wakil rakyat haha..

Nah kebetulan juga itu tangal 9, angka favoritku , siapa tau habis nyoblos dapat hadiah mobil, kayak mainan anak anak diwarung coblos coblos berhadian mobil mobilan haha

Dan kebetulan lagi dari desaku ada wakil rakyak yang konon mau merakyat, tapi anehnya kelihatan cuma menjelang pemilihan, aku datang bukan untuk nyoblos dia, tapi aku mau lihat gimana gayanya dia photoan ketika nyoblos dan ketika memasukkan lebar suara yang bisu itu.

Selanjutnya datanglah aku ke TPS 2 Banjar Kawan.

Banyak kecurangan yang terjadi, mungkin KPU dan masyarakat lainya sudah tau, ada yang serangang pajar (membeli suara) ada penggiringan bagi kaum kaum lansia yang tak ngerti cara nyoblos kemudian saksi menggiringnya untuk menyoblos partai yang dia usung, dan banyak kecurangan lainnya yang ditutup tutupi.

Toh kita milih wakil saja repot, toh juga wakil kita tidak bisa memberikan kebijakan yang kita butuhkan, toh ya kalau mereka naik akan nyari balik modal lagi, modal mereka kampanye gak jelas masang Baliho sok ganten, yang sok cantik dan sexy juga ada, aku berpikir itu caleg mewakili warga lokalisasi mungkin, memejang photo dengan belahan dada menonjol serta senyum sok imut yang seakan akan bilang "coblooosss aku yiaaah" hahaha

banyak lagi caleg  jadi MONYET  yang kampanye dengan memaku pohon, mudah mudahan nanti pas jadi wakil rakyat dia gak dipaku sama kursi yang terbuat dari kayu itu hehhee.
yaaah harapanku semoga INDONESIA menjadi lebih maju, dengan president yang baru, bukan president yang suka buat album lagu hehehe
nah karena aku ingin berphoto pas di TPS ini beberapa Photoku :


Mau aku pilih kamu,, iyaa kamuuuu....

ini gaya calon caleg masa depan saat masukin lembar suara

inget celup nya sekali, jangan bekali kali entar ketagihan haha


Baca Selengkapnya...

Carut Marut UN : UJIAN NASKELENG

Aku bertanya dalam hati ini, benarkah kalau aku menulis judul tulisanku seperti di atas?
mungkin ada yang setuju ada pula yang tidak setuju itu wajar saja, ini blog pribadiku aku mau menulis apa yang aku rasakan.
UN yang di elu elukan oleh orang sok pintar, mengatakan UN ini akan meningkatkan kualitas pendidikan Endonesa, untuk meningkatkan semangat belajar, dll sebagainya diocehkan oleh dia yang duduk manis cuma mengeluarkan kebijakan namun tak tau apa yang sebenanya terjadi di bawah sini.
Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, cukup bahkan lebih kalau digunakan untuk membuat sekolah dan menggaji guru di daerah terpencil yang anak anaknya kesekolah harus menyeberang sungai, naik gunung dan tentunya turun gunung lagi setelah itu.

KONONNYA SANGAT RAHASIA, SAMPAI SALAH CETAK PUN DI RAHASIAKAN

Iya UN memang bagus digunakan untuk evaluasi hasil pendidikan anak selama ini apalagi dengan pembaharuan pembaharuan yang dilakukan untuk standar kelulusannya, yang dulunya murni nilai UN kini dikombinasikan dengan nilai rapot dengan perhitungan 60% : 40%.  Iya perbaikan itu tentu lebih baik karena pendidikan selama 3 tahun disekolah yang nilainya dalam rapot tidak dibuang begitu saja.
Mungkin tulisan ini tidak lengkap data datanya, namun dari pengamatan pribadi saya yang terbatas, saya tidak melihat hasil yang sangat signifikan dalam kemajuan pendidika Endonesa, masih banyak anak anak yang putus sekolah karena biaya pendidikan yang tinggi, banyak sekolah yang rusak dan tak ada guru, ini menimbulkan pertanyaan, kenapa Endonesa tidak memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan dulu, baru melaksanakan evaluasi secara Nasional bukan secara Naskeleng, iya kenapa aku sebut naskeleng?
Pertama, standart kelulusan di pukul rata antara sekolah yang sarana dan prasarannyaa lengkap dengan sekolah yang sarana dan prasarananya gak lengkap. Oke ada yang menjawab  itu sebuah tantangan bagi sekolah yang tidak lengkap prasarananya agar bisa bersaing dengan sekolah yang sarana dan prasarananya lengkap. Pertanyaan pun timbul, kita belajar untuk bersaing? sekolah didirikan untuk mendidik anak anak bersaing?  kemudian kalau sudah sukses bersaing negara ini akan terbebas dari para korupsi dan perusak alam?
Kedua : UN ajang evaluasi untuk melihat hasil pendidikan secara berkala, namun alat evaluasinya masih amburadol, paket dibuat banyak banyak, yang sampai bingung tukang cetaknya sehingga nyetaknya pun ala sekedar tercetak,sampai saking rahasinya soalnya salah cetak pun tidak diketahui tau alasannya soal di cetak banyak variase sampai 20 paket? iya konon agar anak anak tidak bisa nyontek,  berarti pemerintah itu sudah meragukan kejujuran anak didiknya sendiri, waduh generasi penerus bangsa kok diragukan, piye to pak beye...

JAWABANNYA CD (bukan daleman)
 Ketiga : Polisi sampai mengawal soal UN ini, biar gak bocor jawabannya, itu artinya panitia penyelenggara sekolah, kabupaten dan provinsi masing masing tidak di akui kejujurannya oleh pemerintah,,,sehingga sampai di utus lah polisi untuk menjaga.
kalian tau aturan dibuat untuk dilanggar? haha..itu yang sering terjadi di Endonesa ini, seketat apapun soal UN di jaga tetap saja ada kebocoran jawaban yang beredar ke anak anak sebelum UN mereka jalani.

 BAGAIMANA KALAU UJIAN NASIONAL DIHAPUS SAJA?

Di tengah carut-marutnya penyelenggaraan UN marilah kita berpikir ulang tentang perlu-tidaknya UN. Namun, hasil pemikiran kita ini hendaknya tidak pretensikan akan didengar atau dilirik oleh para pengambil kebijakan. Syukur-syukur kalau didengar. Bila tidak didengar, cukuplah untuk bahan perenungan kita sendiri atau mungkin diperjuangkan dengan berbagai cara.
Telah lama pro-kontra pelaksanaan UN terjadi. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersikukuh bahwa UN harus dilaksanakan. Standar kualitas lulusan secara nasional adalah satu-satunya alasan yang paling penting diselenggarakannya UN. Itu pun di masa lalu diputuskan dengan canggung. Kadang-kadang disebutkan bahwa UN hanya untuk pemetaan tentang kondisi sekolah-sekolah di seluruh Endonesa. Kenyataannya, publik sampai sekarang tidak dapat mengakses informasi tentang peta pendidikan di Endonesa.
Sekarang to the point saja. Sebaiknya UN tidak lagi dilakukan untuk menentukan kelulusan siswa. Menurut Juru Bicara Kemendikbud barusan di sebuah TV swasta , UN menentukan kelulusan dengan proporsi 60%, sedangkan ujian sekolah proporsinya 40%. Kalaupun mau diselenggarakan, UN harus benar-benar HANYA untuk pemetaan tentang kualitas sekolah secara nasional.
Pada prinsipnya UN lebih baik ditiadakan saja. Mengapa?
(1) Kelulusan anak sekolah ditentukan oleh penyelenggara sekolah, khususnya pengajarnya. gak adil kelulusan ditentukan oleh pihak lain yang tidak mengajar anak tersebut. Ini merupakan prinsip dasar evaluasi pendidikan. Karena kelulusan sekolah melibatkan beberapa mata pelajaran, maka penentuannya dikoordinasikan oleh sekolah.
(2) Secara teknis dan prosedur UN akan mengalami hambatan yang sangat berat. Wilayah geografis Endonesa sangat luas. Infrastruktur pendistribusian soal ujian masih buruk. Mentalitas kejujuran masih rendah.
(3) Dari sisi praktik selama ini belum dapat dilihat dengan signifikan pengaruh UN terhadap peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan.
(4) Dampak penyelenggaraan UN justru mengarah pada hal-hal yang ironis dengan tujuan pendidikan. Kecurangan terjadi di mana-mana, baik yang dilakukan oleh guru, sekolah, maupun siswa, atau bahkan yang lain. Itu karena dari awal mereka tidak dipercayai oleh pemerintah jadi yaa ikut curang kayak para pejabat gitu.
(5) Biaya yang diperlukan sangat besar. Untuk tahun ini saja diperlukan Rp 543,45 miliar. Uang sebanyak ini dapat dialihkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau memperluas akses masyarakat miskin terhadap pendidikan.
Kalau UN dihapus, lalu bagaimana dengan standar kualitas?
Bila UN dihapus tidak berarti standar pendidikan nasional tidak bisa dicapai. UN adalah salah satu instrumen saja. Masih ada instrumen yang lain. Apa?
(1) Dengan meningkatkan efektivitas supervisi, meningkatkan kualitas guru di seluruh Endonesa, memperbaiki infrastruktur sekolah, menambah koleksi perpustakaan.
(2) Dengan menyelenggarakan ujian bersama beberapa sekolah (misalnya ujian tingkat kabupaten) dengan mekanisme yang baik yang melibatkan semua sekolah yang siswanya hendak diuji.
(3) Dengan meningkatkan efektivitas akreditasi sekolah. Hasil akreditasi dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas pendidikan di sekolah-sekolah. Secara nasional, hasil akreditasi sekolah juga dapat dijadikan bahan untuk memetakan kondisi pendidikan di seluruh Endonesa.
Satu lagi dasar logis perlu dihapusnya UN adalah dengan melihat penyelenggaraan perguruan tinggi. Di Endonesa hingga saat ini tidak diadakan Ujian Nasional untuk perguruan tinggi yang sifatnya serentak seperti UN SMP dan/atau SMA/SMK. Toh hal ini tidak menjadi masalah. Misalnya, Jurusan Ilmu Korupsi diselenggarakan banyak perguruan tinggi dari Puncak Gunung sampai Puncak Bukit baik negeri maupun swasta, namun tidak pernah diadakan Ujian Nasional Jurusan Ilmu Korupsi di seluruh Endonesa
Dengan dihapuskannya UN otonomi daerah dikedepankan. Prakarsa atau kreativitas orang-orang daerah dihargai. Tidak seperti sekarang, daerah-daerah seolah dianggap tidak mampu dan tidak dipercaya menyelenggarakan ujian yang bermutu bagi siswa-siswanya. Selain itu, hal ini juga mengurangi sentralisme pendidikan yang berlebihan. UN nasional selama ini juga menjadi "lahan basah" bagi orang-orang tertentu di pemerintahan sana.
lah terus mau terus UN kayak begendang??
Baca Selengkapnya...

12 April, 2014

Taman Sorga


Dan ketika rindu, ku hanya bisa ungkapkan lewat gitar serta harmonika.
Berharap mereka bisa mengantarkan rinduku padamu
Sekian lama sudah kita tak berjumpa, kawan. Apa kabarmu disana? Aku rindu ketika kita memecah ombak bersama, mencuri mangga dan membuat rujak bersama, membuat tugas kuliah tapi unjung ujungnya kita malah kelayapan di pasar mencari bahan masakan dari resep yang kita dapat di google, rindu menerjang angin malam sambil memaki para polisi yang suka mengejar kita karena menerobos lampu merah.
Ingatkan waktu kita tertangkap? Kau gugup sampai kencing dicelana? Dan aku dengan enteng menjawab "maaf pak polisi, teman saya buta warna"
Tentu saja polisinya tidak percaya dan tetap menilang kita
Syukur itu cuma sekali dari ratusan kegilaan yang pernah kita alami bersama. Namun ingat polisi itu tidak akan pernah bisa menghentikan kegilaan kita.
itu katamu dulu ketika kamu belum sadar celanamu basah bau pesing.
hahaha...

Aku sedang di Taman Sorga, tempat kita dulu berbaring bersama melihat bintang , iya itu taman yang tak seorang pun berani berbaring disana, mereka tak berani tapi kita? Jangan tanya lagi, taman itu sampai kita namai sendiri : "Taman Sorga" lengkap dengan tanda kencing kita layaknya anjing yang menandai wilayahnya.
Tanam Sorga ada Di Pulau ini, Pulau yang Konon Katanya Indah.

Kini aku berbaring sendiri disini kawan, di Taman Sorga yang kita namai dulu

melihat sorga dari sini, mungkin juga kamu melihat aku dari sana,ya mungkin saja kalau kamu tidak sedang sibuk berpetualang dengan teman baru mu disana.
3 tahun lalu, kita kesini terakhir kali ketika habis menyelesaikan ujian akhir kalkulus, dan kamu berucap "kayang ne, saye ne kar ngoyong ditu" sembari kamu menunjuk kumpulan triliunan bintang berbentuk menyerupai sungai dan beberapa rasi bintang.
Para bintang itu akan berterimakasih kepada kita kawan, karena kita memberikan mereka nama Sorga, dan taman yang sering kita kencingi serta kita coret dengan pesan pesan pemberontakan kepada pemerintah yang pro kepada insvestor, bukan kepada para rakyak kecil, pemberontakan kepada manusia yang sok suci mengatasnamakan agama dan keluarga besar menindas yang lemah, berontak kepada situasi dikampus yang meminggirkan kita karena IP kita kecil, lucunya kita memberontak kepada orang orang yang suka melanggar lampu merah juga ya itu kita sendiri.
Ini taman pemberontakan yang kita sebut Taman Sorga karena dari sini kita bisa melihat sungai langit yang membawa triliunan bintang bersama nya, bak sorga indah yang di elu elukan oleh para pendosa bangsat yang berharap mendapat sorga setelah mem bom teman sebangsa nya yang beda keyakinan.
Hai kawan, kini aku sudah sarjana dan bekerja sebagai guru serta pemberontak seperti dalu, cuma kini aku lebih rapi dan tak kencing sembarangan lagi layaknya anjing haha
Seharusnya kita wisuda bersama, photo bersama dan syukuran bersama karena kita IP di bawah rata rata bisa wisuda juga, bisa berjabat tangan dengan rektor dan tentunya kita punya banyak cerita indah yang agak bangsat untuk di ceritakan kepada anak cucu kita kelak, beda dengan mereka yang kuliah cuma untuk mengejar IPK tinggi 4,0. Iya aku akui mereka hebat lebih hebat dari kita kan kawan?, dan kita selalu tertawa melihat mereka ketika mereka stress berat karena IP mereka turun, IP turun? Kita mah biasa saja, hahaa..itu membuat mereka iri kepada kita dan menyisihkan kita dari geng mereka yang kampret itu.
Sudahlah kawan, aku tak mau bercerita banyak soal mereka, kini mereka sudah sukses dengan jalan mereka sendiri, dan aku pula sukses menikmati jalanku.
Oya kawan, Taman Sorga kini telah berubah, sudah banyak gedung bertingkat dan sawahnya sudah berubah jadi beton, plang jalur hijaunya membisu tak bisa berbuat apa untuk melarang para manusia kampret merusak jalur hijau, tapi untung masih ada sisa sedikit untuk aku menikmati sisa taman sorga ini sebelum berubah menjadi beton semua,
Kawan, sejujurnya ingin ku beli bangunan bertingkat ini, bukan untuk memperkaya diriku tapi kan ku bongkar dan ku jadikan sawah lagi, sebagian ku pakai sekolah dan sisa puing puingnya aku gunakan mengubur para oknum pemerintah yang hanya diam melihat ada pembangunan di jalur hijau.
Di sorga sana apa sama ada pelanggaran jalur sorga? Haha mudah mudah itu bukan kamu, layaknya seperti masih menjadi manusia yang suka menerobos lampu merah.

Oya kamu tahu kawan, kini aku jadi guru matematika yang di senangi para siswa, bukan karena IP ku mendekati 4,0 atau guru yang pintar mebodohi mereka dikelas, tapi karena aku bisa tampil apa adanya, menyatu dengan mereka layaknya menjadi teman belajar yang terkadang aku belajar banyak juga dari mereka namun adakalanya aku pura pura galak biar kayak dosen kita dulu hahaa..iya aku galak karena mereka tak mau belajar dengan sungguh sunguh layaknya kita dulu, itu cuma pura pura saja aku galak karena sesungguhnya aku sayang dan ingin melihat mereka tumbuh jadi anak anak yang akan merenovasi bangsa kita yang kian rusak kawan.
Kawan, kau merayakan nyepi juga di sorga? Aku kesal dengan nyepi ku kali ini, dirusak oleh mereka yang tak mau menghargai nya sebagai budaya luhur, iya mereka orang Bali sendiri, mereka berjudi, mereka keluar rumah berphoto ditengah jalan raya yang sedang sepi dengan bangganya mereka upload ke media sosial berharap di kira keren oleh orang lain, mereka tak sadar merendahkan budayanya sendiri ya kawan, semoga kau setuju kawan dengan pandanganku soal itu.
terkutuklah orang orang seperti itu.

Pura Besakih
Sebelum nyepi aku sempat ke Pura Besakih sembahyang ada odalan di pura kawaitan ku Bali Mula,
aku sempat berdebat dengan pengujung disana yang tentunya tamu domestik dan bukam orang Hindu, aku komplin mereka mamasuki kawasan suci pura tak menggunakan pakaian layaknya aturan memasuki pura, minimal selendang lah atau alangkah bagusnya memakai kamen dan senteng biar sopan dan kesannya menghormati orang Hindu yang sedang melaksanakan persembahyangan.
Tapi aku berdebat sudah sopan tak seperti dulu ketika aku berdebat dengan para dosen yang gelar pendidikannya panjang, lebih panjang dari namaku haha.

Tukang Photo ini Salah Satu Mata Duitan, Cuma Duit dan Tanpa Mau Ikut Menjaga Kesucian Pura Besakih
Dari debat itu, aku menemukan banyak kasus cukup serius, sesungguhnya para tamu itu, aku sebut mereka tamu karena mereka datang bukan untuk sembahyang melainkan melihat lihat, memphoto dan di photo kemudian mengunggahnya ke media sosial.

Nah para tamu ini, berani memasuki kawasan suci Pura Besakih tanpa busana adat minimal kamen atau selendang yang di ikat di pinggang, itu karena aturan yang di berlakukan tidak dibarengi dengan sanksi yang tegas kalau ada tamu yang melanggar, jadi kesannya dibiarkan begitu saja oleh mereka masuk ke kawasan suci pura disana, nah mereka itu siapa? Iya tentu pertama penjaga tiket masuk yang tugasnya menghitung berapa orang di dalam mobil kemudian minta uang yang besarnya sesuai dengan jumlah orang di mobil plus biaya parkir, aku tak sebutkan harganya karena bisa berbeda setiap harinya dan bisa berbeda pula kalau penjaganya berbeda,jadi disana tidak ada pemberitahuan untuk menggunakan pakaian adat, hanya uang yang di ingat.
Guide ini Salah Satu Mata Duitan, Cuma Duit dan Tanpa Mau Ikut Menjaga Kesucian Pura Besakih

Selanjutnya sampai di jaba pura, akan ada kawanan guide lokal menawarkan jasa sebagai pemandu memasuki pura, di bagian ini ada guide yang menyarankan para tamu untuk menyewa pakaian adat kurang lebih 10K untuk kamen dan selendangnya.
Parahnya ada pula guide yang langsung transaksi harga serta kadang memaksa untuk menggunakan jasa mereka, tanpa mengindahkan kenyaman tamu dan tanpa memberi himbauan agar menggunakan pakaian adat bagi tamu kalau mau masuk ke kawasan suci pura Besakih, kembali ke hanya uang dan kesan memaksa.
Guide ini Salah Satu Mata Duitan, Cuma Duit dan Tanpa Mau Ikut Menjaga Kesucian Pura Besakih
untuk guide yang bukan lokal, artinya tamu atau travel sudah membawa guide langsung, guide non lokal ada yang menghimbau para tamu menggunakan pakaian adat ada pula yang acuh tak acuh soal pakaian memasuki kawasan suci pura Besakih.
Sembraut
Selanjutnya ada pedagang yang tidak di tata secara rapi, dan anak anak kecil yang berjualan, gaya atau teknik menjualnya memaksa untuk membeli dengan tampang memelas utamanya yang anak anak. Oke ini kasus dari sudut tak nyaman.
Bagaimana yang tamu gak memakai guide, dan nyelonong masuk tanpa pakaian adat? Siapa yang menegur? Jawabannya hapir tidak ada, bahkan mungkin tidak pernah ditegur kecuali aku mungkin yang rela berdebat menegur mereka, terus guide lokal, pedagang yang semeraut itu serta jasa tukang photo itu tidak menegur tamu yang masuk tanpa pakaian adat? Oke jawabannya TIDAK, buktinya mereka sibuk sendiri tanpa peduli pakaian yang digunakan oleh tamu itu, yang mereka pedulikan cuma uang yang bisa mereka raup dari para tamu itu. Padahal di Pura Besakih itu sudah ada tulisan di larang naik kecuali sembahyang, lah para tamu tetap saja di biarkan naik (masuk ke Penataran Agung), terus buat apa ada papan itu? Cuma pajangan? Apa cuma biar seram saja?
Terus haruskah umat Hindu yang berasal dari luar Besakih, terganggu oleh para tamu karena aturan yang tak tegas? Haruskan umat Hindu lain yang bersal dari luar Besakih yang menegur para tamu itu?
Meraka Tanpa Guide, Seharusnya di Loket Tiket diberikan Informasi
Haruskan umat Hindu yang dari luar Besakih yang menegur tamu karena tidak mematuhi aturan menerima kata "de welin ne tamu ne nyanan suud ye mai" jangan di tegur tamu nya nanti mereka tidak mau datang kesini lagi, kata itu justru keluar dari mulut orang lokal disana yang berprofesi dan mengais rejeki dari Pura Besakih.
Itu secuil masalah kecil karena ketidak pedulian akan nasib kesucian Pura Besakih di masa akan datang.
Yang di pedulikan cuma uang dan uang dari para tamu, aku paham kalian butuh uang namun seimbangkan lah dengan ikut menjaga kesucian Pura Besakih, kalian tidak berpikir tamu akan lebih hormat kepada kalian kalau kalian mau tegas dan memberikan kenyamanan kepada mereka, tidak perlu dipaksa kalau tidak mau menggunakan jasa guide, namun harus tegas jangan dikasi masuk kalau tidak mau menggunakan pakaian yang tidak sesuai dengan aturan, dan jangan dibiarkan masuk ke areal yang memang tidak boleh, maka para tamu akan penasaran dengan apa yang ada di dalam, tentu rasa penasaran itu bisa dijawab oleh para guide, disana lah peran guide sesungguhnya memberikan informasi bukan memaksa untuk digunakan jasanya kelihatan sekali kalian murahan kalau seperti itu.
Itu Ada Papan Pengumuman tapi Tetap Saja ada Tamu yang Naik tanpa Busana Adat.
Nah tentu kesucian Pura bukan hanya Besakih tapi pura pura lainnya di Bali, harus di jaga bersama,  bukan hanya orang lokal di desa pura itu berada, cara nya gampang ramah dan peduli serta sopan, ada tamu masuk ke areal pura tanpa mematuhi aturan, sapa dulu kemudian beritahu kesalahannya, dan agar dia mau mematuhi aturan yang berlaku, kendala bahasa? Pakai saja bahasa tubuh, gak bisa juga? Tunjukkan saja pintu keluar sama tamunya sambil triak triak tidak jelas, lebih baik terkesan tidak ramah untuk mejaga kesucian pura dari pada ramah membiarkan mereka masuk ke areal pura tanpa mematuhi aturan, ayo pilih yang mana? Mau di cap orang Bali bisa dibayar kesucian pura nya? Atau orang Bali itu tegas saya terkesan sekali cara mereka menjaga kesucian Pura nya? Ayoo di pilih di pilih hehe..
Ada kata kata "jangan dimarah nanti mereka tak mau datang kesini lagi"
Kalau kalian memang peduli dengan nasib dan kesakralan Pura Besakih dan Pura pura lain di Bali, kalian tak akan takut pura kalian tidak di kunjungi oleh mereka, toh kalian ngodalin yang ngayah siapa? Yang buat banten siapa? Yang lebih banyak medana punia siapa?
Jawabannya adalah Orang Hindu yang sembahyang di pura itu, dan beberapa orang / perusahaan yang menghormati kesakralan pura serta mau menyumbang agar diberkahi oleh Hyang Widhi.
dan bukan para tamu yang tidak mau mematuhi aturan itu yang menanam andil dalam odalan pura disana.
Jangan lah pikirkan uang yang masuk ke kantong kalian saja, yakinlah kalau kalian bisa menjaga kesucian dan kesakralan Pura Besakih dan pura pura lainnya, niscaya para tamu akan hormat kepada budaya kita, dan rejeki akan semakin dilancarkan olehNya.
Jaga kebersihan lingkungan, kenyamanan dan keamanan areal pura niscaya kantong kalian akan lebih berisi meskipun tidak lewat para tamu itu, Tuhan akan mengirim rejekinya lewat jalan lain dan itu pasti.
Bener kan kawan? Aku banyak bercerita yang belum tentu di dengar oleh mereka yang jauh lebih pintar dan berkuasa dari pada aku, tapi aku yakin kamu mendengarkan apa yang aku ceritakan kepada mu kawan, meskipun kamu jauh di sorga sana.
Sampaikan ceritaku ke pada Tuhan ya? Meskipun Beliau maha tahu, aku ingin cerita ini dapat menyadarkan orang orang betapa pentingnya kita menjaga Bali agar tetap stabil, suci, sakral, ramah, sorganya dunia dan pulau seribu pura bukan seribu bangunan bertingkat serta bangunan tinggi lainnya.
Kawan sampaikan maaf ku kepada Tuhan, ku tak bisa berbuat banyak untuk menjaga Bali tetap lestari dan ajeg, karena orang orang sepertiku sedikit jumlahnya, lebih banyak mementingkan isi perut mereka masing masing tanpa peduli dengan lingkungan alam sekitar, sampaikan kepada Tuhan, tegur pejabat kami yang tidak bekerja demi rakyat, yang mengambil ke putusan mengeluarkan SK yang akan merugikan masyarakat Bali, tegur lah mereka yang jahat dengan Bali agar mereka sadar dan mau mencintai Bali, karena Bali adalah Pulau penuh dengan ke sakralan yang patut di jaga oleh semua orang, dari Bali untuk Bali oleh semua

Ini Baru Tamu yang Berkualitas, Sudah Cantik, Pintar dan Mau Menghormati Budaya Bali. Suksma

Trio Kuning, Mereka Berpose dengan senyum manis dan Kamen nya.

like Father like son, Akur dan Menghargai Budaya Bali dengan Menggunakan Kamen saat Memasuki Pura Besakih

Ini Photo Pura Besakih Ketika Masih Nyaman Tanpa Dangang Asongan dan Tamu yang tak Menghormati Budaya Bali
Kawan aku pamit yah dari Taman Sorga ini, aku harus istirahat karena besok aku harus menemani anak anak ku disekolah belajar agar mereka bisa membangun bangsa ini mejadi lebih baik dan tidak merusak budaya bangsa.
Terimakasih kawanku jaga sorga ku disana, suatu saat nanti aku akan datang kesana dan melanggar lampu merah bersamamu disana.

NB: Semua gambar di tulisan ini, berasal dari Google, Suksma.


Baca Selengkapnya...